Edarkan Zenith di Perusahaan Sawit, Warga Kotim Diciduk Polsek Hanau

TERSANGKA pengedar zenith, Achmad Rusyadi Darya [37], dengan sejumlah barang bukti [Barbuk] di Mapolsek Hanau, Pembuang Hulu Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah [Kalteng], Senin [20/7/2020]. Foto | Ist/Kalteng Independen

KUALA PEMBUANG, KI – Mengedarkan obat Charnophen atau zenith di kawasan perkebunan Perusahaan Besar Swasta Kelapa Sawit [PBS KS] di Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah [Kalteng]. Achmad Rusyadi Darya [37], warga Jalan Delima 10 Nomor 28 RT 12, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur [Kotim] ditangkap jajaran Kepolisian Sektor [Polsek] Hanau, Senin [20/7/2020] kemarin.

Achmad Rusyadi Darya diciduk aparat saat melakukan transaksi di kawasan Perumahan D4 PKS PT Sawit Mas Nugraha Perdana [PT SMNP], Desa Tanjung Hanau, Kecamatan Hanau, Seruyan, pada Senin siang.

Kapolres Seruyan AKBP Agung Tri Widiantoro melalui Kapolsek Hanau Ipda Budi Utumo mengatakan, penangkapan pengedar zenith tersebut berawal dari laporan masyarakat kepada polisi yang menginformasikan jika Achmad Rusyadi Darya sering melakukan transaksi zenith.

Mendapati laporan tersebut, Polsek Hanau langsung bergerak ke lokasi kediaman tersangka di Perumahan D4 PKS PT SMNP, tempat yang dijadikan untuk mengedarkan zenith.

“Saat dilakukan penggeledahan di rumah tersangka, anggota menemukan ratusan butir zenith yang akan diedarkan tersangka,” katanya.

“Barang bukti yang berhasil kita amankan yakni berupa zenith sebanyak 207 butir serta satu unit sepeda motor jenis Scopy nopol KH 6925 QC yang biasa digunakan pelaku untuk melancarkan peredaran zenith,” ujarnya.

Budi Utomo menambahkan, untuk penyelidikan lebih lanjut, tersangka masih diamankan diruang tahanan Mapolsek Hanau.

“Tersangka akan dikenakan pasal 114 Ayat [1] jo pasal 112 ayat [1] Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 44 tahun 2019 tentang perubahan penggolongan Narkotika sebagaimana terdaftar nomor 145 dan atau pasal 197 jo pasal 106 Undang-undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar,” jelasnya.

 

  • Koresponden : Tim KI
  • Editor : Bambang
Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *