PBS Dinilai Cuek Dengan Program PLTB di Seruyan

KUALA PEMBUANG – Perusahaan Besar Swasta [PBS] di Kabupaten Seruyan dinilai minim kepedulian terhadap desa-desa yang menjadi binaannya terutama di sekitar wilayah operasional perusahaan. Salah satunya melalui program Corporate Social Responsibility [CSR] yang merupakan wujud pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungannya.

Selayaknya, perusahaan berpartisipasi dalam mengembangkan lingkungan sekitar melalui program-program sosial. Terutama yang berhubungan dengan kebutuhan utama masyarakat di sekitar perusahaan seperti program pertanian di desa.

“Salah satunya anggaran pengendalian kebakaran hutan dan lahan [Karhutla] dengan pola pertanian Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar [PLTB] wajib hukumnya didukung oleh dana CSR. Namun, sampai sekarang belum ada realisasinya,”kata Kepala Dinas Ketabahanan, Pangan dan pertanian [DKPP] Seruyan Sugian Noor, Kamis [18/7/19].

Sugian-sapaannya-menambahkan, mahalnya biaya pengolahan lahan tanpa bakar membuat petani kesulitan melakukan cetak sawah.

“Biaya pola cetak sawah mencapai Rp18 juta perhektar menggunakan exsavator dan melepas tunggul dilahan persawahan menggunakan exsavator dengan biaya Rp15 juta perhektar,” ujarnya.

Karenanya, sambung Sugian, dukungan dana CSR dari PBS sangat diperlukan petani dalam mengelola lahan tanpa bakar, sehingga petani bisa bertani.

“Tetapi ternyata, penyaluran dana CSR yang disalurkan BUMN maupun BUMS untuk usaha-usaha pertanian di Seruyan belum ada realisasi bagi sektor pertanian yang memiliki peran penting dalam percepatan pembangunan wilayah,” katanya lagi.

Menyikapi hal itu, saat ini Pemkab perlu merumuskan kebijakan dan mekanisme yang tepat dalam mengarahkan potensi dana CSR yang ada.

“Diperlukan strategi kebijakan CSR yang lebih memperhatikan usaha-usaha pertanian,” tuturnya. Tim KI/KI-02

Bagikan ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *